PENGOPTIMALAN PRISTISE AKADEMIK GURU DALAM MENULIS ILMIAH
Hamidah, S.Pd
1. PENDAHULUAN
Era teknologi informasi dan komunikasi dalam upaya peningkatan mutu pendidikan haruslah dilakukan dengan menggerakkan seluruh komponen yang menjadi subsistem dalam suatu system mutu pendidikan. Subsistem yang pertama dan utama adalah factor guru. Ditangan gurulah hasil pembelajaran yang merupakan salah satu indicator mutu pendidikan lebih banyak ditentukan, yakni pembelajaran yang baik sekalgus bernilai sebagai pemberdayaan kemampuan (ability) dan kesanggupan (capability) peserta didik. Tanpa guu yang dapat dijadikan andalannya, mustahil suatu system pendidikan dapat mencapai hasil sebagaimana diharapakan. Guru punya peran yag sangat penting di bidang pendidikan, terutama di tingkat pendidikan dasar dan menengah. Guru dituntut untuk dapat mengembangkan diri yang salah satu caranya adalah menulis. Menulis merupakan salah satu kemampuan bahasa yang harus dimiliki oleh setiap orang apalagi seorang guru. Menulis dalam arti komunikasi adalah suatu sarana untuk menyampaikan buah pikiran, gagasan, ide, pengetahuan, harapan, dan pesan. Menulis bagi guru menjadi masalah yang cukup dilematik, antara esensi kemampuan diri yang tidak bisa dipaksakan dengan syarat, tugas dan tuntunan keilmuan (profesionalisme). Pada hal menulis mempunyai peranan yang cukup tinggi dan strategis. Menurut Targigan (1992) bahwa indikasi kemajuan suatu bangsa dapat dilihat dari maju tidaknya komunikasi tulis bangsa itu. Pertanyaan besar yang muncul dari benak penulis adalah mengapa guru belum memulai untuk menulis.
Dilihat dari perspektif guru sebgai subyek, dan sebgai praktisi pendidikan, sesungguhnya para guru memiliki potensi dan kesempatan menulis yang sangat besar. Guru sebenarnya memiliki segudang bahan yag bisa dijadikan tulisan. Guru bisa menulis tentang pengalaman pribadi berkaitan dengan pembelajaran yang dilaksanakan di dalam kelas. Guru bisa menulis tentang suka dan duka menjadi guru. Guru juga bisa menulis dengan berbagai tema untuk dijadikan bahan tulisan, dengan catatan guru tersebut memiliki keinginan yang tinggi dalam menulis. Selain kemampuan guru dalam menulis, juga bisa menulis karya ilmiah (KTI) hasil penelitian, yang salah satunya adalah melakukan penelitian tindakan kelas (PTK), beberapa hal yang menjadi alasan dalam melaksanakan PTK yang menjadi salah satu pendekatan dalam meningkatkan atau memperbaiki mutu pembelajaran adalah:
1. Merupakan pendekatan pemecahan masalah yang bukan sekedar trial and error
2. Menggarap masalah- masalah factual yang dihadapi guru dalam pembelajaran
3. Tidak perlu meninggalkan tugas utamanya, yakni mengajar
4. Guru sebagai peneliti
5. Mengembangkan iklim akademik dan profesionalisme guru
6. Dapat segera dilaksanakan pada saat muncul kebutuhan
7. Dilaksanakan dengan tujuan perbaikan
8. Murah biayanya
9. Design lentur dan fleksibel
10. Analisis data seketika dan tidak rumit
11. Manfaat jelas dan langsung
Dalam hasil observasi yang telah penulis lakukan dengan teknik wawancara dengan sampel beberapa orang guru yang terdiri dari staf pengajar di salah satu Sekolah Menengah Atas Negri 2 di kota Pontianak pada tanggal 18 April 2010 yaitu adanya beberapa alasan dalam masalah kemauan serta kesempatan dalam menulis. Hal ini memungkinkan adanya tuntutan pekerjaan serta kebutuhan ekonomis dalam penyeimbangan kesibukan sehari-hari. Selain itu, dalam kurun waktu tertentu sangat jarang sekali adanya keefektifan sebuah pelatihan dan seminar dalam penulisan karya ilmiah untuk para guru. Adanya penunjukkan terhadap individu-individu tertentu yang terus-menerus diikutsertakan mengakibatkan adanya pengurangan kualitas menulis untuk guru lainnya. Oleh sebab itu penulis mencoba membangkitkan semangat para guru untuk kembali menulis dengan berbekal kemauan.
2. ISI
Dalam penggunaan teknik penulisan ilmiah ini diperlukan struktur kalimat yang benar dan tepat serta adanya pengertian. Kalimat yang mengandung pengertian memiliki ciri dengan adanya pokok kalimat atau dikatakan subjek kalimat, adanya predikat, serta adanya pelengkap (keterangan atau objek). Hal ini biasanya disebut dengan singkatan S-P-O-K. contohnya dalam penggunaan kata penghubung “bahwa” yang menghubungkan antar dua kalimat. Dapat dituliskan dengan sebuah rumus S-P-O “bahwa” S-P-O-K. Dalam penulisan ilmiah ini mencakupi dunia akademis, seperti skripsi, tesis, disertasi, dan tulisan ilmiah lainnya. Adanya perspektif, paradigma, metode penulisan, hipotesis dan abstrak serta tata cara mengutip tulisan merupakan satu diantara syarat dalam penulisan ilmiah. (Prof. Dr. Syarif Ibrahim Alqadrie : 2010).
Dari pengutipan teori diatas dapat digunakan oleh guru sebagai acuan dalam penulisan ilmiah. Dalam penulisan ilmiah yang dilakukan oleh guru dapat membuatnya dihargai secara akademik. Pertama dengan kemauan guru menulis dapat menghantarkan ke tangga karier yang lebih baik. Para guru yang mempunyai prestasi dalam hal karya tulis ilmiah akan mendapatkan perhatian khusus dari pemerintah. Sebagai contoh, setiap tahun pemerintah melalui kementrian pendidikan nasional menyelenggarakan lomba keberhasilan guru dalam pembelajaran. Kedua, karya tulis yang kita buat dapat menjadikan posisi tawar kita secara akademis meningkat. Lingkungan disekitar kita kita akan lebih memberikan apresiasi atas karya tulis ilmiah yag kita hasilkan. Ketiga, hasil karya tulis ilmiah kita bisa dijadikan bahan referensi makalah, buku, skripsi, maupun tesis. Ketika tulisan kita dikutip dan dijadikan bahan referensi tulisan orang lain kita merasa senang dan bangga.
Hal ini menjadi motivasi. Jika guru banyak menulis, sang guru akan sangat termotivasi bahwa kan mendapat nilai tambah (added value) karena bisa digolongkan ke dalam intelektual. Ini salah satu positifnya. Aktifitas menulis juga bisa membuat guru menjadi manusia pembelajar. Sebab, kalu guru mau akan menulis, ia pasti harus melakukan aktivitas membaca. Membaca dalam arti riil seperti membaca berbagai referensi atau buku dan juga tidak melakukan aktivitas menulis. Pada proses ini guru yang suka menulis akan terbiasa dengan aktivitas belajar mengidentifikasi masalah, belajar menganalisisnya serta mengasah kemampuan mencari pemecahannya. Pembelajaran demikian bisa membuat guru menjadi sosok pendidik yang kritis analitis.
Kegiatan dalam menulis ternyata juga bisa memiliki nilai ekonomis yang cukup besar dan dapat menambah pemasukan pribadi. Bila tulisan tersebut dimuat atau dicetak, kocek anda akan tebal. Dengan demikian menulis dapat mengatasi kesulitan ekonomi yang dihadapi para guru selama ini. Selain itu, jika adanya ketekunan guru dalam menulis di sebuah media atau mengarang sebuah buku, performance-nya pasti akan berubah. Terlebih lagi, jika tulisan itu dijadikan sebuah buku dan diterbitkan oleh penerbit sehingga dapat membanggakan. Dan mendapatkan royalty.
Para penulis yang sering menulis di media massa biasanya akan banyak dikenal oleh banyak orang, apalagi jika ia mampu menyajikan tulisan-tulisan yang menarik, pasti para pembaca pasti akan teringat dengan si penulis. Guru juga bisa memiliki banyak penggemar selain dari siswa-siswinya, jika ia menulis baik di media massa, jurnal maupun penerbitan buku.
3. PENUTUP
Mutu pendidikan pada hakekatnya adalah bagaimana proses belajar mengajar yang dilakukan guru dikelas berlangsung dengan baik dan bermutu. Mutu pendidikan ditentukan melalui PBM (Proses Belajar Mengajar) yang optimal, kreatif dan inovatif. Diantaranya dengan menulis dan melaksanakan PTK (penelitian Tindakan Kelas) karena dapat menjadi satu diantara pendekatan dalam peningkatan atau memperbaiki mutu pendidikan. Berkenaan dengan PTK tidak terlepas dari teknis penulisan ilmiah yang baku.
Penulis menghimbau kepada para guru untuk mulai menulis dari saat ini dan tidak lupa dengan teknis penulisan ilmiah yang telah dipaparkan dari teori diatas.